Ia di sini sekarang, perjalanan pulang setelah Mahameru—Perjalanan Hati—puncak tertinggi Jawa, dan segala tentangnya. Alih pandangnya sekarang melihat jendela kereta Matarmaja yang melaju membawanya pulang menuju Jakarta. Pejaman mata dan tarikan nafasnya, seakan mencoba menjawab segala pertanyaan besar yang terus memenuhi benaknya semenjak kemarin Ranu Kumbolo hilang dari pandangannya. …
Di sebuah lereng indah tak bernama di Hakodate, Hokkaido, berdiri Kafe Dona Dona yang menawarkan layanan istimewa kepada pengunjungnya: perjalananan melintasi waktu. Seperti di Funiculi Funicula yang ada di Tokyo, hal tersebut hanya dapat dilakukan jika berbagai peraturan yang merepotkan dipenuhi dan dengan secangkir kopi yang dituangkan oleh perempuan di keluarga Tokita. Mereka yang ingin memu…
Agni adalah remaja bergenetik unggul, bagian dari Pilar Muda, program pembibitan Golongan Perak sejak masih berusia 7 tahun. Bersama sahabat-sahabatnya dari program yang sama, Bimo si pelawak dan Christine si ilmuwan, Agni menantikan kelulusannya menjadi Pilar Pancasila di Hari Peringatan 100 Tahun Indonesia Merdeka. Sebuah serangan teroris di wilayah NKRI eks Malaysia menjadi awal mimpi bur…
Bagaimana jika hewan kesayangan kalian ternyata hewan dengan kekuatan terbesar di dunia paralel? Bagaimana jika hewan yang terlihat imut, menggemaskan, ternyata bisa menjadi salah satu petarung paling hebat? Kali ini kita akan berpetualang di klan baru, dengan tokoh-tokoh baru. Termasuk mengetahui bahwa pandemi yang menyusahkan penduduk juga terjadi di klan-klan jauh. Tapi ingatlah selalu, s…
Buku ini berawal dari kematian Jan Djong, seorang aktivis dan mantan kepala desa dekat koca kecil Maumere. Selanjunya ia memandang perdebatan masa kini tentang kewargaan di dunia pascakolonial dari perspektif sejarah. Kewargaan pernah disebut "prinsip dasar organisasi hubungan antara negara dengan masyarakat di negara-negara modern." Kini, proses demokratisasi bersifat lebih intensif di duni…
Na Willa duduk sendiri di sekolah, membaca Wiro, sementara anak lain asyik bermain.l Kini ia di Jakarta, jauh dari rumah di dalam gang, jauh dari teman masa kecilnya, dan hari-harinya dimulai dengan murung. Hingga suatu kali Na Willa berjumpa dengan anak yang menghitung jumlah kaki kursi, anjing kecil yang bisa berubah warna, bibi yang bicara dalam bahasa yang tak ia pahami, paman yang memba…
Si kecil Na Willa tinggal di sebuah gang di Surabaya, di rumah dengan pohon cemara di depanya. Ia menghabiskan hari dengan berlari mengejar kereta bersama Dul (walau ia selalu tertinggal), pergi ke pasar bersama Mak, melewati bapak penjual anak ayam kuning, atau memikirkan bagaimana orang bisa nyanyi-nyanyi dalam radio. Buku ini berisi catatan-catatan Na Willa tentang dunia yang dilihat dari…
Hari-hari Na Willa masih dipenuhi kegembiraan: bermain-main bersama teman-teman kecilnya, membaca buku-buku baru dari Bu Juwita, atau menyanyi di RRI. Apalagi Pak kini juga mengis hari-harinya. Pak mengantar Na Willa ke sekolah dan membelikan es krim (tanpa bilang-bilang Mak), atau mengajarinya ketak-ketik di kantor, atau bersama-sama menggambari dinding rumah (barangkali hanya rumah Na Willa y…
Buku ini memberikan wawasan tentang watak korupsi dalam birokrasi patrimonial. Di sini kita diajak menjelajah bagaimana publik menganggap koriupsi sebagai hal yang wajar, par excellence dan harus diterima secara legowo dan rendah hati. di bagian lain kita diajak menelusuri sejarah korupsi hingga adanya negara birokrasi patrimonial yang di dalamnya muncul alat negara yang membiakkan korupsi. Bu…
Buat apa kamu memikirkan apa yang dipikirkan orang lain? Buat apa kamu mencemaskan apa yang akan dinilai orang lain? Kekhawatiran, juga kecemasan yang sejatinya mungkin tidak pernah ada. Dulu, sekarang, hingga kapan pun, dia adalah kakakku. Tentang seorang kakak yang mengorbankan apapun agar adik-adiknya bisa sekolah. Tentang rasa sabar dan penerimaan. Tentang keluarga yang penuh perjuangan.…